1000407648
Potret Tungku dan Kesabaran

 

*Di Antara Asap dan Batok Kelapa, Manisnya Gula Aren Dipertahankan*

 

Di Kampung Ma’dang Kecamatan Limboro, pembuat gula aren di sedang mencetak nira kental ke dalam batok kelapa, jumat (23/10/2026). Dengan wajan besar yang masih berasap di sampingnya, puluhan cetakan gula merah berjajar rapi menunggu mengeras.

 

Di samping wajan, duduk bersila seorang ibu paruh baya Kindo Ba’du. Wajahnya fokus. Di tangan kanannya, ia memegang sendok kayu penuh dengan gula kental berwarna coklat kemerahan. Di tangan kirinya, sebuah batok kelapa kosong. 

“Kindo Ba’du ; Loppa sanna tu’u nak’ Tapi iyamo tomo tia jama-jamanan ta”

Dengan gerakan yang sudah hafal di luar kepala, ia menuangkan gula panas itu dengan hati-hati.

 

Di depannya, sudah berjejer puluhan batok kelapa lain yang sudah terisi. Sebagian sudah mulai mengkilap, tanda mulai mengeras. Sebagian lagi masih cair. Di pojok dapur, terlihat karung berisi batok kosong dan wajan-wajan besar lain yang siap dipakai.

 

Foto ini bercerita lebih dari sekadar membuat gula. Ia bercerita tentang *ketahanan*. Dinding kayu yang hitam, lantai yang berjelaga, dan wajan yang aus menunjukkan bahwa tempat ini sudah digunakan bertahun-tahun. Tidak ada mesin modern. Semua mengandalkan tenaga tangan dan feeling.

 

Dari foto ini kita belajar, manisnya gula yang kita campur ke kopi pagi hari, ternyata lahir dari dapur berasap dan kesabaran seorang ibu yang tak pernah padam.

 

  1.  

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait