Pendidikan sangat penting dalam kehidupan kita. Pendidikan bukan hanya belajar tentang
ilmu pengetahuan, tapi juga belajar menghargai orang lain serta membantu diri untuk masa
depan.
Sekolah bukan hanya tempat belajar, ujian, dan mendapatkan nilai, tapi di sekolah ada banyak
hal lain lagi, seperti bertemu teman, bercanda bersama, dan membuat kenang-kenangan.
Tapi, ada juga siswa yang kurang nyaman di sekolah. Bukan karena tidak suka sekolahnya,
melainkan pertemanannya yang kurang baik. Entah sering dijadikan bahan candaan atau
sering dikucilkan.
Sejak SD sampai sekarang, saya mempunyai mata pelajaran yang sangat saya sukai. Namun,
terkadang saya tidak semangat dengan pelajaran itu, bukan karena pelajarannya susah, tapi
saat belajar ada hal yang membuat rasa semangat saya berkurang di mata pelajaran itu.
Di situ saya mulai sadar bahwa pelajaran yang kita sukai tidak akan membuat kita semangat
saat mengikutinya. Suasana kelas dan cara guru mengajar juga sangat berpengaruh.
Guru memang mempunyai hak untuk menegur siswa yang melakukan kesalahan. Tapi, cara
menegur juga harus diperhatikan. Jika kesalahannya harus ditegur secara pribadi, sebaiknya
siswa dipanggil dan ditegur tanpa diketahui orang lain. Karena teguran di dalam kelas pasti
membuat siswa merasa malu, apalagi cara menyampaikannya membuat siswa merasa
direndahkan.
Ada juga guru yang suka menjadikan siswa sebagai bahan candaan atau roasting di dalam
kelas. Mungkin bagi guru itu hanya candaan, tapi tidak semua siswa perasaannya sama.
Bercanda memang boleh, tapi kita harus tahu batas agar tidak menyakiti perasaan orang lain.
Menurut saya, sebelum menyalahkan siswa, guru juga perlu memberikan kesempatan kepada
siswa untuk menjelaskan bagaimana kejadian sebenarnya. Jangan langsung menyalahkan
siswa tanpa mengetahui yang sebenarnya.
Menegur itu sangat boleh, tapi jangan membuat siswa kehilangan rasa percaya dirinya.
Tujuan menegur itu membantu siswa memperbaiki kesalahan, bukan mempermalukannya.
Dan biasanya ada guru yang jarang masuk kelas hingga siswa ketinggalan pelajaran. Hal
seperti ini sangat sering terjadi.
Guru dan siswa sama-sama mempunyai tanggung jawab. Siswa harus belajar sungguh-
sungguh, sedangkan guru harus menjalankan tugas dengan baik. Jika guru berhalangan
masuk kelas, sebaiknya diberi tugas supaya waktu belajar siswa tidak terbuang begitu saja.
Teman juga sangat berpengaruh terhadap semangat belajar kita. Ketika melihat teman yang
rajin belajar, kita jadi termotivasi untuk melakukan hal yang sama.
Persaingan di kelas itu sangat boleh, tapi kita harus bersaing secara sehat. Ketika teman
dapat nilai bagus, kita harusnya termotivasi lebih giat lagi belajar, bukan malah merasa iri
atau berusaha menjatuhkannya dengan segala cara.
Dan ketika ada teman yang mengalami kesulitan belajar, kita harus saling bantu, tapi jangan
memperlihatkan jawaban, melainkan hanya membantu cara mengerjakannya.
Pertanyaan untuk Guru
1. Apa tantangan terbesar Ibu dalam menjaga semangat belajar murid?
Tantangan terbesar saya adalah membuat murid merasa bahwa belajar itu penting dan
bermanfaat bagi mereka. Setiap murid memiliki latar belakang, minat, dan kondisi yang
berbeda. Ada yang mudah bosan, ada yang kurang percaya diri, dan ada jg yang yang
gampang teralihkan sama HP atau masalah di luar sekolah. Akibatnya, semangat belajar
mereka bisa naik dan turun.
Untuk mengatasinya, saya berusaha:
• Mengenal murid satu per satu, sehingga saya tahu apa yang membuat mereka bosan atau
kesulitan.
• Memberi apresiasi atas usaha murid, sekecil apa pun, bukan hanya atas nilai yang baik.
• Menciptakan suasana kelas yang aman, sehingga murid tidak takut salah dan berani
mencoba.
2.Bagaimana menegur murid tanpa mempermalukannya?
Prinsip saya, yang saya tegur itu perilakunya, bukan orangnya. Misalnya, bukan bilang ‘kamu
malas’, tapi ‘Ibu lihat tugasmu belum dikumpulkan, ada kendala apa?’. Dan sebisa mungkin
saya tegurnya secara pribadi, tidak di depan teman-temannya, karena kalau dipermalukan,
anak biasanya malah jadi malu atau melawan.
Langkah yang biasa saya lakukan:
– Memanggil murid secara pribadi, misalnya setelah pelajaran selesai atau di luar kelas.
• Berbicara dengan tenang dan sopan, tanpa nada marah, sindiran, atau perbandingan
dengan murid lain.
• Mendengarkan alasan murid, karena mungkin ada kendala yang tidak saya ketahui.
• Memberi arahan dan harapan yang positif, lalu mengapresiasi bila ia sudah berubah.
Jika harus menegur saat pelajaran berlangsung, saya cukup memberi isyarat halus,
mendekati tempat duduknya, atau mengingatkan secara umum tanpa menyebut nama.
Dengan cara ini, murid tetap merasa dihargai dan lebih mudah menerima nasihat.
3.Seberapa penting hubungan baik antara guru dan murid?
Hubungan baik antara guru dan murid sangatlah penting, karena menjadi dasar keberhasilan
proses belajar. Murid yang merasa dihargai, aman, dan didukung akan lebih berani bertanya,
berpendapat, dan mencoba hal baru, termasuk ketika mereka melakukan kesalahan.
Sebaliknya, jika hubungannya renggang atau penuh rasa takut, murif cenderung pasif dan
enggan belajar.
Hubungan yang baik juga membantu memahami kebutuhan dan kesulitan setiap murid,
sehingga bimbingan yang saya berikan lebih tepat. Selain itu, murid lebih mudah menerima
arahan, nasihat, dan teguran dari guru yang mereka hormati dan percayai. Namun, hubungan
baik tetap harus disertai batasan dan sikap profesional, agar wibawa guru terjaga dan disiplin
serta agar murid tidak menganggap gurunya sebagai teman biasanya.
Pertanyaan untuk Siswa
1. Apa yang membuat kamu kurang semangat belajar?
Saat belajar dan cara menjelaskan materi yang cukup membosankan atau yang berpusat
pada ceramah saja.
2.Bagaimana perasaanmu jika dijadikan bahan candaan di kelas?
Tentu saja merasa sedih dan kecewa pada teman teman kelas
3.Apakah temanmu pernah membuatmu lebih semangat belajar?
Pernah
Menurut saya, sekolah bukan cuma tempat untuk belajar dan mendapatkan nilai, tetapi juga
tempat kita belajar menjadi lebih baik. Guru dan teman punya pengaruh besar terhadap
semangat belajar kita. Walaupun terkadang kita merasa bosan, kita harus tetap berusaha dan
berkembang untuk meraih cita-cita.
