Salah satu artikel dari graphie.co.id menyatakan hasil dari suatu survei pada menunjukkan bahwa dari
pengguna yang sudah memakai AI (Artificial Intelligence), sebanyak 77,8% di antaranya
mengoperasikannya setiap hari. Tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian dari persentase tersebut
adalah peserta didik.
Di era digitalisasi ini, perkembangan AI menjadi semakin cepat. Maraknya aplikasi dan macam-macam
AI, mulai dari yang bersifat general maupun yang dispesifikasikan terhadap satu fungsi saja, banyak
muncul di pasaran. Namun, sayangnya, tidak banyak peserta didik yang mampu menggunakan AI
tersebut dengan bijak.
“Kami kadang-kadang langsung tulis saja seperti yang diberikan oleh AI karena malas dan capek,” ujar
dua orang siswa SMAN 1 Tinambung.
Dalam penggunaan AI, literasi bersifat sangat penting, mengingat banyaknya peserta didik yang
mengambil informasi dari AI tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.
“Sebenarnya, meski sudah ada jawaban dari AI, siswa tetap perlu membaca buku sebagai
pembanding. Mengingat bahwa informasi di AI itu tidak selamanya benar, tidak seperti buku yang telah
melalui banyak proses seperti uji kelayakan buku,” ujar Pak Yusran, selaku salah seorang guru mata pelajaran.
Melihat realitas ini, penggunaan AI harus diselaraskan dengan minat membaca para siswa. Program
Sulbar Mandarras (Sulawesi Barat Membaca dan Cerdas) dapat menjadi solusi. Mengingat program ini
mewajibkan seluruh siswa SMA/SMK membaca minimal 20 judul buku sebagai salah satu syarat
kelulusan, kebijakan tersebut dapat menjadi katalis untuk meningkatkan minat membaca para siswa.
Menyelaraskan minat baca dan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi sebuah pilihan,
melainkan sebuah kebutuhan guna menghadapi era digitalisasi.