1000407975
Minat baca harus selaras dengan penggunaan AI? Apa iya?

 

Salah satu artikel dari graphie.co.id menyatakan hasil dari suatu survei pada menunjukkan bahwa dari 

pengguna yang sudah memakai AI (Artificial Intelligence), sebanyak 77,8% di antaranya 

mengoperasikannya setiap hari. Tidak dapat dimungkiri bahwa sebagian dari persentase tersebut 

adalah peserta didik.

Di era digitalisasi ini, perkembangan AI menjadi semakin cepat. Maraknya aplikasi dan macam-macam 

AI, mulai dari yang bersifat general maupun yang dispesifikasikan terhadap satu fungsi saja, banyak 

muncul di pasaran. Namun, sayangnya, tidak banyak peserta didik yang mampu menggunakan AI 

tersebut dengan bijak.

“Kami kadang-kadang langsung tulis saja seperti yang diberikan oleh AI karena malas dan capek,” ujar 

dua orang siswa SMAN 1 Tinambung. 

Dalam penggunaan AI, literasi bersifat sangat penting, mengingat banyaknya peserta didik yang 

mengambil informasi dari AI tanpa melakukan pengecekan lebih lanjut.

“Sebenarnya, meski sudah ada jawaban dari AI, siswa tetap perlu membaca buku sebagai 

pembanding. Mengingat bahwa informasi di AI itu tidak selamanya benar, tidak seperti buku yang telah 

melalui banyak proses seperti uji kelayakan buku,” ujar Pak Yusran, selaku salah seorang guru mata pelajaran.

Melihat realitas ini, penggunaan AI harus diselaraskan dengan minat membaca para siswa. Program 

Sulbar Mandarras (Sulawesi Barat Membaca dan Cerdas) dapat menjadi solusi. Mengingat program ini 

mewajibkan seluruh siswa SMA/SMK membaca minimal 20 judul buku sebagai salah satu syarat 

kelulusan, kebijakan tersebut dapat menjadi katalis untuk meningkatkan minat membaca para siswa.

Menyelaraskan minat baca dan penggunaan AI dalam kehidupan sehari-hari bukan lagi sebuah pilihan, 

melainkan sebuah kebutuhan guna menghadapi era digitalisasi.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait