1000407907
MENGATASI KESULITAN BELAJAR,GURU TERAPKAN PENDEKATAN PERSONAL DAN PEMBELAJARAN AKTIF

Kesulitan memahami materi dan rendahnya motivasi belajar menjadi tantangan yang kerap dihadapi dalam kegiatan pembelajaran. Setiap siswa memiliki kemampuan, kebiasaan, dan cara memahami materi yang berbeda. Kondisi tersebut membuat guru perlu mengenali hambatan yang dialami siswa agar dapat menentukan pendekatan pembelajaran yang sesuai. Upaya ini tidak hanya dilakukan melalui penyampaian materi, tetapi juga dengan membangun motivasi, memberikan pendampingan, dan menciptakan suasana belajar yang mendukung keterlibatan siswa.

Salah satu persoalan yang dapat muncul di kelas adalah keengganan siswa untuk mengerjakan soal atau mencatat materi yang disampaikan. Berdasarkan hasil wawancara dengan seorang guru, langkah awal yang dilakukan untuk menghadapi situasi tersebut ialah menanyakan alasan siswa tidak ingin mengerjakan tugas atau mencatat pelajaran. Dengan mengetahui penyebabnya, guru dapat mempertimbangkan cara yang tepat untuk membantu siswa.

Guru kemudian memberikan motivasi dengan menjelaskan pentingnya mengerjakan tugas dan mencatat materi. Kedua kegiatan tersebut dapat membantu siswa memahami pelajaran serta mengingat kembali informasi yang telah dipelajari. Namun, apabila siswa masih belum menunjukkan kemauan untuk belajar, guru memberikan bimbingan secara bertahap dan perhatian khusus agar siswa tetap merasa nyaman selama mengikuti pembelajaran.

                 Gambar 1.1

Magfirah Waris S.Pd(Wawancara salah satu guru mengenai proses belajar dalam kelas) 

“Jika masih tidak berhasil, saya akan membimbingnya secara perlahan dan memberikan perhatian khusus agar siswa tetap merasa nyaman dalam mengikuti pembelajaran,” ujarnya.

Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa penanganan kesulitan belajar tidak selalu dapat dilakukan dengan cara yang sama kepada setiap siswa. Guru perlu memperhatikan kondisi siswa dan membangun komunikasi agar hambatan yang dihadapi dapat diketahui. Dengan demikian, pendampingan tidak hanya berfokus pada penyelesaian tugas, tetapi juga pada upaya mendorong siswa agar lebih siap mengikuti kegiatan belajar.

Memahami Kesulitan Siswa melalui Pendampingan:

Kesulitan belajar juga dapat terlihat ketika siswa tidak mampu menyelesaikan soal yang diberikan. Dalam menghadapi kondisi ini, guru tidak langsung memberikan jawaban, melainkan mengamati cara siswa memahami pertanyaan. Guru kemudian menanyakan bagian yang dianggap sulit dan menjelaskan kembali materi menggunakan bahasa yang lebih sederhana.

Cara tersebut membantu guru mengenali letak kesulitan siswa secara lebih terarah. Sebagian siswa mungkin belum memahami maksud pertanyaan, sedangkan siswa lainnya bisa saja belum menguasai konsep yang diperlukan untuk menyelesaikan soal. Karena itu, penjelasan ulang perlu disesuaikan dengan bagian yang belum dipahami, bukan sekadar mengulang seluruh materi dengan cara yang sama.

Pendampingan secara bertahap juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan jawaban mengungkapkan kesulitannya. Komunikasi dua arah antara guru dan siswa menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran karena memungkinkan guru memperoleh gambaran mengenai pemahaman siswa. Di sisi lain, siswa memiliki kesempatan untuk memperbaiki pemahamannya tanpa harus merasa takut ketika mengalami kesulitan.

Selain melakukan pendampingan secara langsung, guru juga berdiskusi dengan rekan sejawat ketika menghadapi kendala dalam mengajar. Diskusi tersebut menjadi sarana untuk bertukar pengalaman, menyampaikan persoalan yang ditemui di kelas, dan memperoleh masukan mengenai pendekatan yang dapat digunakan. Kerja sama antarguru dapat memperluas sudut pandang dalam menghadapi beragam karakteristik siswa.

Melalui pertukaran pengalaman tersebut, guru dapat mempertimbangkan alternatif penyelesaian masalah sesuai dengan situasi pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa upaya meningkatkan kualitas pembelajaran tidak hanya bergantung pada kemampuan individu guru, tetapi juga dapat didukung oleh komunikasi dan kerja sama di lingkungan sekolah.

Lingkungan Belajar yang Lebih Bervariasi:

 

Selain pendekatan personal, suasana dan lingkungan belajar turut menjadi bagian yang perlu diperhatikan. Kegiatan pembelajaran tidak harus selalu berlangsung di dalam ruang kelas. Guru menyebutkan bahwa area terbuka, seperti taman sekolah dan gazebo, dapat dimanfaatkan sebagai alternatif tempat belajar.

Pemanfaatan lingkungan sekolah dapat memberikan variasi suasana dalam kegiatan pembelajaran. Siswa dapat mengikuti aktivitas di luar kelas apabila tempat dan jenis kegiatannya sesuai dengan tujuan pembelajaran. Meski demikian, pemilihan lokasi tetap perlu mempertimbangkan kenyamanan, keamanan, serta kemampuan siswa untuk berkonsentrasi.

Pembelajaran di luar kelas bukan sekadar memindahkan tempat belajar, melainkan perlu disertai kegiatan yang jelas agar siswa tetap terarah. Guru dapat menyesuaikan aktivitas dengan materi yang dipelajari sehingga lingkungan sekitar dapat menjadi bagian dari pengalaman belajar siswa.

Variasi tempat belajar juga dapat menjadi salah satu pilihan untuk mengurangi kejenuhan akibat kegiatan yang berlangsung dengan pola serupa secara terus-menerus. Namun, efektivitasnya tetap bergantung pada perencanaan kegiatan, karakteristik materi, dan keterlibatan siswa selama proses pembelajaran.

Pembelajaran Aktif untuk Mengembangkan Kemampuan Siswa:

Dalam kegiatan belajar, keterlibatan siswa menjadi hal yang tidak kalah penting. Guru menekankan bahwa siswa seharusnya tidak hanya datang ke sekolah untuk mendengarkan penjelasan, tetapi juga terlibat dalam proses berpikir, bekerja sama, dan menyelesaikan masalah. Keterlibatan tersebut dapat dikembangkan melalui metode pembelajaran aktif atau active learning.

Konsep active learning dijelaskan oleh Bonwell dan Eison (1991) sebagai pendekatan yang melibatkan siswa dalam kegiatan belajar serta mendorong mereka untuk memikirkan materi yang sedang dipelajari. Dalam pendekatan ini, siswa tidak hanya menerima informasi secara pasif, tetapi turut berpartisipasi melalui kegiatan yang mendukung pemahaman.

Penerapannya dapat dilakukan melalui diskusi, kegiatan kelompok, pemecahan masalah, maupun penyampaian pendapat. Melalui aktivitas tersebut, siswa memperoleh kesempatan untuk mengemukakan gagasan, mendengarkan pandangan teman, dan mempertimbangkan berbagai cara dalam menyelesaikan persoalan.

Pembelajaran aktif juga berkaitan dengan pengembangan kemampuan berpikir kritis dan kolaborasi. Ketika berdiskusi, siswa perlu memahami persoalan sebelum menyampaikan pendapat. Mereka juga perlu menghargai perbedaan pandangan dan bekerja sama untuk mencapai tujuan bersama. Sementara itu, guru berperan mengarahkan jalannya kegiatan, memberikan penjelasan apabila diperlukan, serta memastikan bahwa aktivitas tetap sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Salah satu bentuk kegiatan yang dapat mendukung keterlibatan tersebut adalah tugas kelompok. Berdasarkan hasil wawancara, guru menilai akhir jam pelajaran sebagai waktu yang tepat untuk melaksanakan kegiatan kelompok. Pada waktu tersebut, siswa dapat bekerja bersama dan bertukar pendapat dalam menyelesaikan tugas yang diberikan.

Agar kegiatan kelompok berjalan terarah, pembagian tugas dan tujuan kegiatan perlu dipahami oleh setiap anggota. Dengan begitu, seluruh siswa memiliki kesempatan untuk berkontribusi, bukan hanya bergantung pada satu orang dalam kelompok. Guru juga dapat memantau proses kerja sama dan membantu apabila siswa mengalami kendala.

Meski demikian, pemilihan metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan kebutuhan siswa dan materi yang diajarkan. Tidak semua kegiatan harus dilakukan secara berkelompok karena beberapa materi mungkin membutuhkan penjelasan langsung atau pendampingan individual. Oleh sebab itu, guru perlu mempertimbangkan metode yang paling sesuai dengan tujuan pembelajaran.

Pendampingan dan Partisipasi sebagai Bagian dari Proses Belajar:

Berbagai strategi tersebut memperlihatkan bahwa menghadapi kesulitan belajar membutuhkan perhatian terhadap kondisi siswa sekaligus pengelolaan kegiatan kelas yang tepat. Pendampingan individual membantu guru mengenali hambatan yang dialami siswa, sedangkan diskusi antarguru dapat menjadi sarana untuk menemukan alternatif penyelesaian masalah. Lingkungan belajar yang bervariasi dan penerapan pembelajaran aktif juga dapat mendukung keterlibatan siswa apabila direncanakan dengan baik.

Pada akhirnya, proses pembelajaran tidak hanya berorientasi pada penyampaian materi, tetapi juga pada bagaimana siswa dapat memahami dan terlibat dalam kegiatan belajar. Guru perlu membangun komunikasi, memberikan arahan yang sesuai, serta menciptakan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerja sama.

Upaya tersebut memerlukan penyesuaian secara berkelanjutan karena setiap siswa memiliki kebutuhan belajar yang berbeda. Dengan memperhatikan hambatan siswa dan memilih strategi yang tepat, kegiatan pembelajaran diharapkan dapat berlangsung lebih terarah dan memberikan ruang bagi siswa untuk berkembang.

 

Daftar Pustaka:

Bonwell, C. C., & Eison, J. A. (1991). Active Learning: Creating Excitement in the Classroom. ASHE-ERIC Higher Education Report No. 1. Washington, DC: The George Washington University, School of Education and Human Development.

 

 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait