Sejumlah anak berfoto bersama menggunakan boneka tangan saat mengikuti pertemuan kedua kelas
dongeng Komunitas Tutur Pandongeng di Pambusuang, Polewali mandar, Sulawesi Barat,
Minggu (11 Oktober 2026). (Foto: Dokumentasi Tutur Pandongeng).
PAMBUSUANG, POLEWALI MANDAR — Di tengah maraknya penggunaan gawai
pintar di kalangan anak-anak, Komunitas “Tutur Pandongeng” menghadirkan ruang
literasi kreatif melalui metode tradisi lisan di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa,
Polewali Mandar, Sulawesi Barat.
Pertemuan kelas dongeng kedua yang digelar di Sekretariat Tutur Pandongeng,
Minggu (11 Oktober 2026), disambut hangat oleh warga setempat. Salah satu ibu
yang mengantarkan anaknya mengaku sangat bersyukur dengan adanya ruang
literasi alternatif ini. “Anak-anak sekarang susah lepas dari gawai. Dengan adanya
kelas dongeng ini, mereka punya kegiatan positif dan bisa belajar bersosialisasi lagi
dengan teman-temannya,” ujarnya penuh apresiasi.
Pendiri komunitas, dr. Ainur Basirah Mulya, M.K.M. mengungkapkan bahwa kegiatan
ini bertujuan membangun kepercayaan diri serta menumbuhkan kecintaan anak
terhadap literasi. Namun, ia mengakui keterbatasan relawan dan regenerasi
penggerak menjadi tantangan utama keberlanjutan komunitas.
Kreatifitas Anak melalui Boneka Tangan
Anak-anak membuat boneka tangan dalam kelas
Dongeng Komunitas Tutur Pandongeng di
Pambusuang. Polewali Mandar, Minggu (11 Oktober
2026). (Foto: Dokumentasi Tutur Pandongeng)
Dalam pertemuan kedua yang
berlangsung di Sekretariat Tutur
Pandongeng, Pambusuang, Minggu
(11 Oktober 2026), atmosfer ceria
begitu terasa. Anak-anak yang hadir
tidak hanya duduk mendengarkan
cerita, tetapi juga diajak aktif
mengasah motorik serta imajinasi
mereka lewat kegiatan yang ramah
anak. Antusiasme terlihat saat
mereka diperkenalkan metode
pembuatan media dongeng.
dr. Ainur mengajarkan langsung cara memanfaatkan barang sehari-hari dengan
membuat kreasi boneka tangan dari kaus kaki. Setelah kreasi tersebut rampung, ia
langsung menuturkan cerita dongeng interaktif menggunakan media yang baru saja
dibuat bersama anak-anak.
Tantangan Menjaga Keberlanjutan Komunitas
Bergerak di ranah sosial secara mandiri tentu bukan tanpa hambatan. Tantangan
terbesar yang dihadapi Tutur Pandongeng saat ini adalah konsistensi dan absennya
regenerasi. Sebagai penggerak tunggal, roda aktivitas gerakan ini masih sangat
bergantung sepenuhnya pada inisiasi dan waktu personal dr. Ainur.
“Kami berharap ada kaderisasi dan banyak orang lain yang ikut terlibat untuk
bersama-sama membuat kegiatan. Jadi, jangan sampai kalau saya ada kesibukan
lain, komunitas ini mandek karena tidak ada inisiator,” ungkap dr. Ainur.
Mengumpulkan jiwa-jiwa sukarela yang mau meluangkan waktu demi literasi anak di
era digital menjadi pekerjaan rumah besar yang masih terus ia upayakan solusinya.
Bagi dr. Ainur, kegiatan mendengeng bersama anak-anak merupakan salah satu
upaya untuk mendukung perkembangan kreativitas dan imajinasi mereka. Melalui
kegiatan tersebut, anak-anak dapat berinteraksi, menyampaikan pendapat, serta
mengembangkan kemampuan bercerita.
“Setiap hari, setiap bertemu anak-anak itu pasti ada kesannya masing-masing.
Kegiatan kecil itu ada lucu-lucunya. Mungkin bagi kita apa yang dilakukan biasa saja,
tapi bagi anak-anak, itu adalah momen yang mungkin bisa ia ingat sampai dewasa
nanti,” pungkasnya dengan senyum hangat.
Komunitas Tutur Pandongeng berupaya menjaga tradisi mendongeng sebagai salah
satu cara menanamkan nilai-nilai positif kepada anak-anak. Melalui kegiatan bercerita
yang dikemas secara interaktif, komunitas ini turut memperkenalkan literasi sekaligus
mendorong anak-anak untuk mengembangkan imajinasi dan kepercayaan diri.
