(gambar 1: pembukaan kegiatan festival literasi V 2026)
Semangat generasi muda tak hanya tertuang melalui goresan pena, tetapi juga
terpancar dari setiap langkah perjuangan di arena. Dalam rangka menyambut Hari Sumpah
Pemuda, UPTD SMA Negeri 1 Tinambung khususnya organisasi “Gerakan Literasi Sekolah”
menyelenggarakan Festival Literasi sebagai wadah bagi para siswa untuk menyalurkan bakat,
mengembangkan kreativitas, serta mengukir prestasi melalui beragam perlombaan di bidang
literasi dan keolahragaan. Kegiatan perlombaan ini dimulai hari Senin, 19 Oktober hingga
Senin, 26 Oktober 2026, dengan menghadirkan beragam kesempatan bagi para siswa untuk
menunjukkan kemampuan terbaik mereka.
Festival ini bukan sekadar ajang untuk memperebutkan kemenangan. Lebih dari itu,
kegiatan ini menjadi ruang bagi tumbuhnya keberanian, kreativitas, sportivitas, dan
kebersamaan. Melalui perlombaan literasi, para siswa diberi kesempatan untuk mengasah
kemampuan berpikir, menuangkan gagasan, dan menyampaikan ide melalui karya. Sementara
itu, perlombaan keolahragaan menjadi arena untuk menguji ketangkasan, kekuatan, kerja
sama, serta semangat pantang menyerah. Dua bidang yang berbeda ini berpadu dalam satu
tujuan, yakni membentuk generasi muda yang cerdas dalam berpikir, tangguh dalam
bertindak, dan kuat dalam menjunjung tinggi persatuan.
Sejak hari pertama pelaksanaan, Festival Literasi menjadi bagian dari perjalanan para
siswa dalam mengembangkan potensi dan menunjukkan bakat yang dimiliki. Setiap
perlombaan menghadirkan tantangan tersendiri, sementara setiap peserta membawa harapan
untuk memberikan penampilan terbaik. Di satu sisi, kata-kata dan gagasan menjadi sarana
untuk menunjukkan kreativitas; di sisi lain, gerak, strategi, dan kerja sama menjadi bukti perjuangan di arena olahraga. Perbedaan kemampuan tersebut justru menjadi warna yang
memperkaya semarak kegiatan.
Senin sore, 19 Oktober 2026, menjadi lembar pembuka bagi perjalanan Festival
Literasi UPTD SMA Negeri 1 Tinambung dalam menyambut Hari Sumpah Pemuda. Di
Lapangan OBAMA, semangat generasi muda mulai menyala, mengiringi langkah para
peserta yang bersiap mengukir cerita melalui perlombaan mini soccer dan marrija’ putraputri. Sore itu, lapangan bukan sekadar hamparan tempat beradu kemampuan, melainkan
panggung tempat keberanian bertemu harapan dan semangat menemukan jalannya untuk
bersinar. Derap langkah, sorak dukungan, serta tatapan penuh tekad menjadi warna yang
menghiasi awal perhelatan. Melalui dua perlombaan tersebut, Festival Literasi membuktikan
bahwa semangat pemuda tidak hanya hidup dalam untaian kata dan goresan pena, tetapi juga
tumbuh dalam gerak, ketangkasan, dan keberanian menghadapi tantangan.
(gambar 2: lomba marrija’ di lapangan OBAMA)
(gambar 3: lomba mini soccer di lapangan OBAMA)
Di tengah riuhnya perlombaan, mini soccer menjadi saksi bagaimana kerja sama
dirajut dan strategi disusun demi satu tujuan, sementara marrija’ putra-putri menghadirkan
warna tersendiri yang menyatukan semangat kompetisi dengan jejak tradisi. Setiap langkah
yang diayunkan, setiap usaha yang dikerahkan, dan setiap sorak yang menggema seolah
menjadi bait-bait cerita tentang perjuangan generasi muda. Kemenangan mungkin menjadi
tujuan, tetapi kebersamaan adalah makna yang tak kalah berharga. Sebab, di balik peluh yang
jatuh dan semangat yang membara, tersimpan pelajaran tentang sportivitas, persaudaraan, dan
keberanian untuk terus mencoba. Hari pertama ini pun menjadi pijakan awal bagi perjalanan
panjang Festival Literasi, ketika pena dan peluh mulai merangkai kisah, menorehkan jejak,
dan menghidupkan semangat pemuda dalam menyambut hari bersejarah bagi bangsa.
Memasuki hari-hari berikutnya, semangat kompetisi berpadu dengan nilai
kebersamaan. Para peserta tidak hanya belajar tentang kemenangan, tetapi juga tentang
menerima kekalahan dengan lapang dada, menghargai kemampuan orang lain, serta
menjunjung tinggi sportivitas. Setiap proses yang dilalui menjadi pengalaman berharga,
sebab prestasi bukan semata-mata tentang hasil akhir, melainkan juga tentang keberanian
untuk mencoba, ketekunan dalam berusaha, dan kemauan untuk terus berkembang.
Memasuki hari kedua, Selasa, 20 Oktober 2026, panggung Festival Literasi UPTD
SMA Negeri 1 Tinambung kembali menjadi saksi tumbuhnya keberanian dan kreativitas
generasi muda. Jika hari sebelumnya lapangan menjadi tempat peluh dan semangat beradu,
kali ini kata-kata dan alunan suara mengambil giliran untuk berbicara. Lomba baca puisi
hadir sebagai ruang bagi para peserta untuk menghidupkan aksara, merangkai rasa, dan
menyampaikan makna melalui setiap bait yang dilantunkan. Kata demi kata mengalir,
membawa pesan yang tersimpan di balik untaian kalimat, sementara lomba nyanyi solo
menghadirkan harmoni suara yang menyentuh suasana. Setiap penampilan menjadi warna
tersendiri, membuktikan bahwa bakat tidak hanya bersembunyi dalam tulisan, tetapi juga
dapat bersinar melalui suara dan penghayatan.
(gambar 4: lomba senam kreasi di lapangan UPTD SMA Negeri 1 Tinambung)
Pada hari ketiga, Rabu, 21 Oktober 2026, semangat festival kembali bergerak melalui
lomba senam kreasi dan monolog. Dalam senam kreasi, gerakan tubuh berpadu dengan
irama, menciptakan rangkaian koreografi yang mencerminkan kekompakan, keluwesan, dan
daya cipta para peserta. Setiap gerakan seolah menjadi bahasa tanpa kata, menyampaikan
semangat melalui harmoni tubuh dan musik. Sementara itu, lomba monolog membuka ruang
bagi para peserta untuk menghidupkan cerita melalui satu suara dan beragam ekspresi. Di
atas panggung, mimik wajah, intonasi, dan penghayatan menjadi jembatan yang
menghubungkan kisah dengan perasaan penonton. Kedua perlombaan tersebutmemperlihatkan bahwa kreativitas memiliki banyak wajah: ada yang hadir melalui gerak
yang selaras, ada pula yang tumbuh melalui kata-kata yang penuh makna.
(gambar 5: Lomba tari kreasi di panggung Loa Lio
Memasuki Kamis, 22 Oktober 2026, Festival Literasi menghadirkan perpaduan antara
keluwesan gerak dan kekayaan tradisi melalui lomba tari kreasi serta kalindaqdaq. Tari kreasi
kembali menjadi ruang bagi para peserta untuk menampilkan harmoni gerakan dan semangat
kebersamaan, sedangkan lomba kalindaqdaq membawa suasana yang lebih dekat dengan
akar kebudayaan Mandar. Melalui untaian syair yang sarat makna, kalindaqdaq menjadi
wadah untuk menyampaikan nasihat, pemikiran, perasaan, dan nilai-nilai kehidupan yang
diwariskan dari generasi ke generasi. Tradisi lisan tersebut seolah menjadi jembatan yang
menghubungkan suara masa lalu dengan semangat masa kini. Di tengah perkembangan
zaman, kehadiran kalindaqdaq mengingatkan bahwa budaya bukan sekadar peninggalan,
melainkan identitas yang perlu dijaga agar tetap hidup di hati generasi muda.
Pada Jumat, 23 Oktober 2026, suasana perlombaan diwarnai oleh lantunan azan
melalui kompetisi adzan. Di balik setiap seruan yang dikumandangkan, tersimpan keindahan
suara, ketepatan pelafalan, dan penghayatan yang menjadi bagian penting dalam perlombaan
tersebut. Lantunan azan menggema sebagai pengingat akan nilai-nilai spiritual yang turut
mewarnai kehidupan para siswa.
Di antara riuhnya Festival Literasi ke V UPTD SMA Negeri 1 Tinambung, terselip
sebuah arena yang mempertemukan ketajaman nalar dan luasnya cakrawala pengetahuan,
yakni lomba BioMathSains. Kegiatan ini diinisiasi oleh mahasiswa Asistensi Mengajar
Universitas Sulawesi Barat yang bergandengan tangan dengan Tim Gerakan Literasi Sekolah.
Kolaborasi tersebut ibarat dua aliran sungai yang bermuara pada tujuan yang sama:
menyuburkan benih pengetahuan dalam diri generasi muda. Melalui perpaduan biologi,
matematika, dan sains, para siswa diajak menyelami samudra ilmu, menyingkap tabir
persoalan, serta menemukan jawaban melalui lentera logika dan ketekunan berpikir.
Dalam perlombaan ini, setiap soal menjelma menjadi teka-teki yang menantang,
sementara setiap jawaban merupakan buah dari ketelitian dan kejernihan pikiran. Para peserta
tidak sekadar berhadapan dengan deretan angka, konsep, dan teori, tetapi juga berlayar
mengarungi lautan pengetahuan yang menuntut keberanian, kecermatan, serta daya nalar
yang tajam. Di tengah perjalanan itu, semangat belajar menjadi kompas yang menuntun
langkah, sedangkan rasa ingin tahu menjadi api yang tak henti menyala. Kehadiran
BioMathSains pun memperluas makna literasi dalam, bahwa ilmu tidak hanya bersemayam
dalam rangkaian kata, tetapi juga tumbuh melalui angka, eksperimen, dan rahasia alam yang
menanti untuk diungkap.
(gambar 6: lomba BioMathSains di lapangan UPTD SMA Negeri 1 Tinambung)
Puncak persaingan tiba pada Jumat pagi, 23 Oktober 2026, ketika babak semifinal dan
final BioMathSains digelar di lapangan sekolah UPTD SMA Negeri 1 Tinambung. Lapangan
yang menjadi saksi semaraknya festival itu seketika berubah menjadi gelanggang pertarungan
gagasan, tempat kecerdasan beradu dan keteguhan diuji. Setiap peserta melangkah dengan
harapan, menyusun jawaban dengan pertimbangan, dan mempertaruhkan kemampuan
terbaiknya di hadapan tantangan. Di sana, kemenangan bukan semata-mata tentang siapa
yang berdiri paling tinggi di puncak, melainkan juga tentang keberanian menapaki proses,
ketabahan menghadapi kesulitan, dan kesediaan untuk terus belajar. Melalui BioMathSains,
Festival Literasi kembali menyalakan obor pengetahuan, mengingatkan bahwa generasi muda adalah tunas masa depan yang akan tumbuh kokoh apabila disirami ilmu, dipupuk rasa ingin
tahu, dan diterangi semangat untuk terus melangkah menuju cakrawala yang lebih luas.
Dari Selasa hingga Jumat, 20–23 Oktober 2026, rangkaian perlombaan tersebut
menggambarkan luasnya cakrawala kreativitas siswa UPTD SMA Negeri 1 Tinambung.
Puisi, nyanyian, gerakan, monolog, syair tradisional, lantunan azan, tulisan jurnalistik, ulasan
buku, permainan digital, hingga bidikan kamera berpadu menjadi mozaik yang memperkaya
perjalanan Festival Literasi. Setiap perlombaan menyimpan tantangan dan cerita tersendiri,
sementara setiap peserta memperoleh kesempatan untuk mengasah kemampuan, membangun
keberanian, serta belajar menghargai usaha orang lain. Festival ini pun menjadi lebih dari
sekadar perayaan perlombaan; ia menjelma ruang pertemuan antara ilmu dan kreativitas,
tradisi dan modernitas, serta persaingan dan persaudaraan. Dalam semangat menyambut Hari
Sumpah Pemuda, seluruh rangkaian kegiatan tersebut menjadi gambaran bahwa generasi
muda dapat menyalakan cahaya prestasi melalui jalannya masing-masing, tanpa kehilangan
semangat persatuan yang menjadi akar kekuatan bangsa.
Festival Literasi pun menjadi pengingat bahwa setiap siswa memiliki kesempatan
untuk bersinar melalui bidang yang dikuasainya, baik lewat kecakapan mengolah kata
maupun kemampuan mengukir prestasi di bidang olahraga. Sejalan dengan semangat Sumpah
Pemuda, kegiatan ini mengajarkan bahwa perbedaan bakat bukanlah alasan untuk terpecah,
melainkan kekuatan untuk saling melengkapi. Pada akhirnya, Festival Literasi bukan hanya
tentang siapa yang berhasil meraih gelar juara, tetapi juga tentang pengalaman, persahabatan,
dan nilai-nilai yang tumbuh sepanjang perlombaan. Di UPTD SMA Negeri 1 Tinambung,
pena dan peluh bersatu, merangkai cerita, mengukir prestasi, dan menyalakan semangat
generasi muda untuk terus berkarya bagi masa depan bangsa.
Sebagai bagian dari rangkaian peringatan Hari Sumpah Pemuda, hadiah bagi para
pemenang direncanakan akan dibagikan pada pelaksanaan upacara Hari Sumpah Pemuda di
sekolah. Upacara tersebut akan menjadi momen kebersamaan bagi tenaga pengajar, staf, dan
seluruh siswa-siswi UPTD SMA Negeri 1 Tinambung untuk mengenang kembali ikrar
persatuan yang menjadi tonggak sejarah perjuangan bangsa. Di tengah khidmatnya upacara,
penghargaan bagi para pemenang akan menjadi bentuk apresiasi atas usaha, ketekunan, dan
keberanian yang telah mereka tunjukkan selama festival. Hadiah itu bukan sekadar benda
yang berpindah tangan, melainkan simbol bahwa setiap usaha memiliki arti dan setiap
perjuangan layak mendapatkan penghargaan. Sebab, kemenangan sejati bukan hanya tentang membawa pulang hadiah, tetapi juga tentang membawa pulang pengalaman, pelajaran, dan
kenangan yang akan tumbuh menjadi bekal perjalanan.
Pada akhirnya, kegiatan Festival Literasi bukan sekadar perayaan yang dihitung
berdasarkan hari, perlombaan, atau deretan nama pemenang. Festival ini adalah benih yang
ditanam di tanah pendidikan, dengan harapan akan tumbuh menjadi pohon pengetahuan yang
menaungi masa depan. Melalui setiap bait puisi, goresan pena jurnalistik, bidikan kamera,
jawaban ilmiah, hingga langkah-langkah penuh semangat di lapangan, para pemuda telah
menunjukkan bahwa potensi akan menemukan jalannya ketika diberi ruang untuk
berkembang. Semangat Sumpah Pemuda pun kembali bergema, mengingatkan bahwa
persatuan bukan hanya ikrar yang diucapkan, melainkan nilai yang harus dihidupkan dalam
karya dan tindakan. Ketika pena dan peluh bersatu, ketika pikiran dan keberanian berjalan
beriringan, lahirlah kisah tentang generasi muda yang tak sekadar bermimpi, tetapi juga
berani melangkah untuk mewujudkannya.